BegitupulaBakal Jemaat "Bukit Zaitun", yang bersama-sama bekerja keras menyelesaikan pembangunan gedung gereja hanya kurang lebih 2 tahun. Pencapaian hari ini merupakan bukti sejarah bahwa sinergisitas warga jemaat, masyarakat setempat, bersama para pendeta sangat menentukan terlaksananya pekerjaan Tuhan yang baik di tanah Borneo. Gedungbaru ini dibangun selama 4 bulan oleh warga GKJW Jemaat Tempurejo sendiri. Selama waktu tersebut, warga bekerja siang malam agar pembangunan dapat diselesaikan pada waktunya. "Kami beberapa kali bahkan bekerja hingga pukul 12 malam," kata Bapak Budi Doyo, ketua panitia pembangunan Gedung Baru TK YBPK Tempurejo. pdtsaneb juga mengingatkan bahwa kecenderungan orang membangun gedung gereja dimana-mana sealu hanya untuk mencari nama besar, cari pujian sehingga pekerjaan pembangunan tidak jarang dirundung konflik hingga berujung pada perpecahan karena itu mata jemaat maranatha harus menjadi contoh yang baik bagi jemaat-jemaat lain yakni harus menjadi Kitatentu rindu dengan pembangunan dan pengembangan gereja, kemuliaan TUHAN sungguh-sungguh kita rasakan. Kita membangun dan mengembangkan gereja tentu untuk kemuliaan TUHAN. Bukan untuk kemuliaan Majelis Jemaat, para penatua, Panitia Pembangunan, atau warga GKI Samanhudi. Tapi kita rindu, semua ini untuk kemuliaan TUHAN! Khotbah: Hagai 2:1-9. Tema : Kemegahan Rumah Tuhan (Kiniulin Rumah Pertoton) Pendahuluan. Rumah Tuhan saat ini identik dengan gedung gereja. Ditengah kesulitan mengadakan dana, membangun gedung gereja yang seringkali terkendala izin masih ada harapan bahwa dalam perkenaan Tuhan, jemaat yang bersatu hati dan pikiran akan mampu mengatasi itu zy4o. SULTENG, Sinode ke-47 Gereja Kristen Sulawesi Tengah GKST terasa lebih istimewa, karena hampir bertepatan dengan HUT ke-74 GKST, yang jatuh pada 18 Oktober 2021. Demikian diungkapkan Pdt. Em Onesimus Kambodji, dalam khotbah ketika memimpin ibadah pembukaan Sidang Sinode ke-47 Gereja Kristen Sulawesi Tengah di Gedung Pesparawi, Beteleme, Morowali Utara 11/11/2021. Sidang Sinode kali ini diikuti 500 an peserta yang dibagi dalam empat gedung gereja terdekat dengan Gedung Pesparawi, yang dihubungkan dengan fasilitas teknologi zoom meeting, guna menaati ketentuan protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19. Sidang kali ini memiliki empat agenda pokok yakni evaluasi laporan pertanggungjawaban Majelis Sinode periode 2016-2021, Amandemen Tata Gereja, Penyusunan Program 2021-2026 dan Pemilihan Majelis Sinode masa bhakti 2021-2026. Ketua Panitia Sidang, Krispen H. Masu dalam laporannya mengatakan bahwa tema Sidang Sinode ke-47 GKST, diambil dari ayat Alkitab Wahyu 2212-13, yakni “Aku adalah yang awal dan yang akhir”, sedangkan sub tema adalah “hanya dengan berharap pada Allah yang membebaskan serta memulihkan, GKST senantiasa memperjuangkan keadilan, keamanan, kesehatan dan kesejahteraan”. Sidang Sinode ke-47 GKST dibuka Gubernur Sulteng yang diwakili Asisten III Setdaprov, Moeljono, dan juga dihadiri sejumlah Bupati. Selain Bupati Morowali Utara, Delis J. Hehi sebagai tuan rumah, hadir juga sejumlah kepala daerah yang wilayahnya terdapat Gereja GKST, yakni Bupati Poso, Verna Inkiriwang, Bupati Sigi, Moh. Irwan Lapatta, Wabub Sigi, Samuel Y. Pongi, serta Bupati Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Budiman. Juga hadir tokoh-tokoh gereja seperti Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia PGI Wilayah Sulut, Gorontalo dan Sulteng, Ketua Bamag Provinsi Sulteng Lucky Semen yang juga anggota DPD RI, Kepala Bidang Bimas Kristen Kanwil Kemenag Provinsi Sulteng dan Pembimas Kristen dari sejumlah kabupaten serta Ketua MUI Kabupaten Morowali Utara. Hadir pula Ketua Tim Penyusunan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam Bahasa Daerah Mori, Pdt. M. Tomana. GKST sudah memberikan konstribusi nyata Dalam sejarah perjalannya selama 74 tahun kehadirannya, GKST telah memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan nasional, bukan hanya di bidang spiritual keagamaan, tetapi juga pendidikan dan kesehatan. “GKST melalui yayasannya, memiliki sekolah-sekolah, mulai dari tingkat TK, SD, SMP dan SMU serta perguruan tinggi. Juga memiliki rumah sakit untuk melayani kesehatan masyarakat,”. Demikian diungkapkan Bupati Morowali Utara Dr. dr. Delis Julkarson Hehi dalam sambutannya. Lebih jauh Delis mengungkapkan bahwa lewat Sidang Sinode ke-47 ini, GKST akan terus menunjukan eksistensinya dalam pembangunan manusia Indonesia, serta memberi kontribusi nyata bagi Sulteng dan Indonesia. GKST lewat sidang sinode, akan terus menunjukkan eksistensi dalam memberi pelayanan kepada bangsa dan negara. Bagian lain, Ketua Majelis Sinode GKST, Pdt. Jetroson Rense, yang akan segera demisioner, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan Sidang Sinode ke-47. Pengurus Sinode GKST 2021-2026 Dalam sidang ini terpilih sebagai pengurus Sinode GEREJA KRISTEN SULAWESI TENGAH Periode 2022-2026 sebagai berikut Ketua Umum Pdt. Djadaramo Tasiabe, Ketua 1 Pdt. DR. Tertius Lantigimo, Ketua 2 Pdt. Robinson Perutu, Sekretaris Umum Pdt. Jetroson Rense, Wakil Sekretaris Pdt. Elieser Meringgi, Bendahara Umum Pdt. Maisuri Botilangi, Wakil Bendaraha Pdt. Nurna Tokede, BPP GKST Periode 2021-2026 Ketua Pdt Abisai Sigilipu, Sekretaris Pnt BJS Tuwuntjaki dan anggota Pdt. Yuko Kombuno. Pewarta Aleksander Mangoting Post Views 683 BEKASI, - Perjalanan panjang perizinan Gereja Ibu Teresa, Cikarang, berbuah manis setelah Pemerintah Kabupaten Bekasi akhirnya memberikan izin pembangunan pada April 2023. Dalam wawancara khusus bersama Penjabat Pj Bupati Bekasi Dani Ramdan berbagi cerita perjalanan panjang perizinan Gereja Ibu Teresa dari tahun 2004. Pembangunan Gereja Ibu Teresa rupanya tersendat salah satunya karena ada kelompok masyarakat yang menolak pembangunan tempat ibadah umat Katolik tersebut. "Memang biasanya kalau gereja di mayoritas muslim ada persoalan izin, awalnya itu, pihak gereja sudah terus melakukan komunikasi," ujar Dani Ramdan saat wawancara bersama beberapa waktu lalu. Baca juga Cerita Bupati Bekasi Datang ke Gereja Ibu Teresa Pertama Kali Bangunan Belum Jadi, Umat Duduk di Kursi Bakso Wawancara khusus dengan Kang Dani Ramdan selengkapnya dapat disimak dalam video berikut ini Belasan tahun berlalu, kata Dani, pihak gereja juga sudah melakukan berbagai upaya, namun tetap muncul penolakan. "Dulunya ada sekelompok masyarakat di sekitar situ bahkan mungkin disebut ulama yang secara keras menolak," ujar Kang Dani. Baca juga Perjuangan 18 Tahun Tak Sia-sia, Umat Katolik Paroki Cikarang Akhirnya Dapat Izin Bangun Gereja Ia menuturkan, penolakan itu terjadi karena tersebar berita bohong soal pembangunan gereja. "Seolah-olah diopinikan itu gereja terbesar se-Asia karena kawasannya luas, menjadi pusat pengembangan agama. Jadi didramatisasi," ungkapnya. Dani kemudian meluruskan kepada masyarakat sekitar bahwa informasi tersebut tidak benar. Ia menyampaikan, Gereja Ibu Teresa dibangun dengan tujuan sama seperti tempat ibadah lainnya.

khotbah pembangunan gedung gereja